Dunia tanpa Kacamata. 👓
Menjadi seorang dengan gangguan penglihatan mungkin akan sedikit mengganggu saat tidak menggunakan alat bantu seperti kacamata.
Tak beda denganku, saat masih bisa melihat dunia ini sangat jelas, ku bisa membaca sesukaku dengan jarak sesukaku tanpa dihalangi oleh sebuah kaca. Banyak yang bilang pakai kacamata akan meningkatkan "ke-intelektual-an" mu setingkat diatas teman-teman sebayamu. Tapi itu bisa jadi ya atau tidak tergantung dengan mengapa kau pakai kacamata.
Menyadari hobbyku membaca dalam jarak yang sangat dekat, membaca ditempat gelap tanpa cukup penerangan, ditambah riwayat genetis sudah cukuplah kau bisa simpulkan kenapa aku pakai kacamata miopi dan slindris. Namun, ayahku selalu berkata "Lepaslah kacamatamu di dalam rumah, jangan terlalu bergantung dengan alat bantu, cobalah meletakkan sesuatu di tempat biasanya, agar kau lebih mudah mengingat".
Beliaupun rajin membuatkanku jus wortel, jus tomat, jus apel dengan prosesor jus andalannya😅. "Rajin makan sayur" itu nasehatnya.
Sebagai anak yang "berbakti" kudengarkan sambil mengiyakan seluruh nasehatnya, tapi jangan tanyakan kapan terakhir aku melakukannya. Kadang jus 5000-an lah yang menjadi andalan disaat kuterngiang nasehat itu. Anak yang baik bukan? 😁
Karena suatu insiden, aku terpaksa tak menggunakan kacamataku, awalnya canggung semacam kabut yg menyelimuti matamu di pagi, siang, sore, malammu, aku bertanya berulang-ulang ini-itu dimana dan aku langsung "merasa bodoh" seketika.
Dulu ada seorang teman menggombaliku dengan cukup serius.
"woi... Kau mau coklat gak?"
"nggak, aku tak bisa makan coklat"
"bah, kenapa?"
"mau tau aja kau..."
"ya sudah, minta ukuran kacamatamu, nanti kubelikan kau kacamata, kita beli gagang yang sama biar bisa kembaran"
"ah kau saja tak pakai kacamata"
"ya, sapa tahu aku jadi kakek-kakek nanti pakai kacamata sepertimu"
>> (dalam hatiku) «
"bodat, boleh juga gombalanmu"
Tak pakai tersipu... Hanya berlalu meninggalkan kenangan itu.
Lalu kini aku masih suka melepas kacamataku dan belajar melihat kembali disekitarku dengan rasa yg wajar tanpa pakai terbawa perasaan.
Kutulis kisah ini di sudut kamar gelap, berjendela kaca, yang sengajaku buka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar