Minggu, 02 Mei 2021

#24

Aku rindu ayah...
Rindu dipeluk, ditanya bagaimana hari ini, rindu senyumannya, ceritanya, kebiasaannya, kehadirannya yang kunikmati tidak begitu lama... 
Menyesal kenapa dulu aku tak menghabiskan banyak waktu dengannya.... Mendengarkan ocehannya, nasihatnya, kasih sayangnya... 11 tahun kita berpisah, selama itu juga aku masih merasakan rasa bersalah sejak ditinggalkan untuk selamanya.

Ayah... Maafkan utet. 

Jumat, 22 Januari 2021

#22

Diantara pasrah dan menyerah mengenai jodoh. 
(tulisan pertama 2021)

Hari ini diingatkan kembali sebuah foto kenangan 4 tahun yg lalu saat baru hangat2nya punya pekerjaan baru dan hangout dengan kawan kuliah dengan ngafe ngafe syantik.  Saat itu semua masih belum ada yg menikah maupun punya anak... Ya kalo tunangan dan pacar masing2 pada punya kecuali aku yg saat itu masih berusia 25 tahun. Dan kini 4 tahun kemudian masing2 sudah memiliki seorang anak baik putra maupun putri

Kalau diingat2 lagi dulu masa remaja aku termasuk orang yg berani menyatakan perasaanku, malah bisa2nya aku mengirimkan surat dihari ulang tahunnya berikut dengan pernyataan bahwa aku menyukainya. Namun tanpa alasan dan penjelasan aku hanya menerima jawaban diamnya hingga akhirnya aku pindah sekolah.

Seiring waktu krisis kepercayaan diriku mulai muncul hingga aku hanya berani menatap dari kejauhan orang yg kusukai sambil ya kode tipis² lah.

Secara fisik aku memang memiliki kelebihan yakni berat badan yg berlebih,walaupun begitu itu aku juga cukup PD dengan senyum yg kumiliki dengan lesung pipi di kanan dan kiri, cukup pintar bergaul, walaupun aku seorang ambivert. 

Namun, saat kutulis tulisan ini aku blm juga menemukan tambatan hati yg mungkin akan berlanjut ke kemungkinan aku untuk berkeluarga. Antara pasrah dan menyerah.... Akankah mungkin kami bertemu di dunia semasih sama² hidup? Atau memang aku tidak akan bertemu dia di dunia ini? Aku merasa harus bisa menerima kesendirian ini hingga kapanpun Tuhan mengkehendaki kita bersua. 

Sambil berusaha untuk tetap selalu stabil secara mental, fisikal, financial serta Agama.

-Sabtu, 23 January 2021-

Rabu, 29 Juli 2020

#21

Akhirnya aku merasakan apa yg di rasakan oleh keluarga tenaga medis yg berjuang untuk melaksanakan tugasnya merawat pasien COVID19. 

Campur aduk hingga air mata pun tak dapat ku bendung. Berusaha kuat dan saling menguatkan. Semoga pandemic ini segera berakhir. Aamiin. 

Sabtu, 18 Juli 2020

#20

Sebuah percakapan antara aku dan ii yg menurutku tiba2 dan gak jelas tujuannya. 

"19 Juli nanti gak kerasa ya mama udah 70 tahun." ujarnya membuka percakapan kami sebelum tidur. 
"hmmm... Iya", sahutku datar. 
"udah tua kali ya mama kalo masih hidup", balasnya.
"ya mungkin setua nenek2... Keriputan..."  Seorang nenek yg kukenal dulu saat magang terlintas di benakku. 

Percakapan itu kami akhiri dengan hehehehe bersama. 

Aku tau kami bertiga memang terlalu muda untuk ditinggalkan seorang ibu. Usiaku yg menjelang 9 tahun, abang yg duduk di bangku akhir sekolah dasar, dan kakak (ii) yg tengah merasakan masa remaja mesti menelan pahit kenyataan bahwa kami menjadi piatu. Tanpa merasakan kasih sayang dan perhatian dari seorang ibu lagi pasti membuat sedikit tidaknya sebuah kekosongan direlung hati kami terdalam yg kini menyisakan kerinduan yg dalam. 

Kenyataan bahwa sekarang kondisi kami baik2 saja meski telah lama tanpa sosok mama dan ayah kadang membuat kami seolah melupakan atau menyampingkan rasa rindu. 

Jika saat ini beliau berdua masih ada, mama dan ayah sudah punya satu cucu yg cantik, pintar dan aktif dari ii... 

Mama, Selamat Ulang Tahun. 
Kami berterimakasih mama sudah dilahirkan dan melahirkan kami bertiga. Maafkan kami banyak salah dengan mama. Kami kirimkan do'a untuk mama semoga mama diampuni semua dosanya oleh Allah SWT. Dilapangkan dan diterangkan kuburnya, dijauhkan dari siksa kubur dan siksa neraka. Kelak kita semua bisa bertemu dan dikumpulkan dalam syurgaNya.
Aamiin yaa Rabbal'alamin. 

Minggu, 20 Oktober 2019

#17

Mimpi buruk yang nyata.
Aku "kambuh" lagi.
Bahkan lebih parah dari 2012 yg lalu.

Setelah ±7 tahun struggling di kondisi yg cukup stabil dan memiliki awareness yg lebih terhadap Kondisiku (setidaknya bisa mandiri terhadap diriku sendiri) namun ternyata aku masih tetap bisa kambuh lagi (dan lagi2 menyusahkan keluagaku)

Januari s.d oktober. 2019

Bahkan saat ku tuliskan tulisan ini aku masih takut mengingat apa yg terjadi pada "fase kambuhku". Beban kerja berlebih dan tak mampu bekerja dalam tekanan memang nyata adanya padaku. Sehingga sampai saat ini pun aku memilih menjadi pengangguran dan hanya berdiam diri di tempat kakakku.

Banyak hal yg harus kusyukuri, dalam fase kambuh itu aku masih punya 2 saudaraku, masih punya sahabat yg mau menerima Kondisiku yg buruk dan tak terkendali... Aku merasakan kondisi itu seperti mimpi buruk yg nyata. Aku tak bisa memilih bangun dan berharap semua hanya mimpi. Yang bisa kuharapkan adalah kembali stabil dan produktif bagaimanapun caranya.
Semoga bisa segera terwujud.
Dan aku akan mewujudkannya dibantu oleh support sistem yg ada.

Aamiin ya Rabbal'alamiin
Lampung, 21102019.00.42

Jumat, 24 Mei 2019

#15

Hari kebangkitan bangsa, dilanjur dengan aksi masa dan terjadi dinegeriku yg kucintai.

Negeriku elok yg kucintai ini, penuh semangat, penuh kekuatan, people power mereka sebut... Demokrasi istilahnya.

Dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat.

Sebagai rakyat aku sering bertanya apa kontribusi yg sudah kuberikan untuk negaraku... Apa yg dirasakan oleh seorang rakyat sepertiku tak ada artinya dengan apa yg dirasakan oleh rakyat dipelosok negeri yg kucintai ini... Pulau terluar, terjauh dan terdampar.
Terpapar, terjatuh, terluka, terobek sukma dan sanubarinya... Jiwa dan raganya....

Ah....jiwaku tetap indonesia... Merah darahnya, putih tulangnya, legam kulitnya, manis senyumnya, putih parasnya, elok budinya, pekertinya tak usah ditanya.... Aceh sampai papua... Kalimantan, jawa, sulawesi pulaunya yang besar... Belum lagi ratusan gugusan pulau yang berserak namun disatukan dengan satu kata nusantara. Dihimpun oleh 1 pancasila.

Teringat disuatu malam di puncak menara monas... Diderunya angin tak terasa ada yg membasahi pipiku... Bukan tempias hujan... Tapi tempias air mata... Akankah aku berguna bagi Agama nusa dan bangsaku? Seperti kedua orangtua ku menangis saat mendengar tangisan pertamaku?

Tingginya monas saat itu... Syahdunya suasana hatiku... Menyatu dan menguatkanku... Aku perlu melihat diriku yg lemah dan dhoif, juga aku perlu melihat kanan dan kiriku, muka dan belakangku atas dan bawahku akar aku tetap mengakar kuat meski angin pasti akan terasa lebih kencang bagiku.

Malam itu... Tanpa alat komunikasi canggih, aku mentafakuri diriku... Dan berjanji bahwa aku akan mengabdikan segenap jiwa dan ragaku demi kemashlahatan negeriku, profesiku dan pasien-pasienku dan tentu saja keluargaku.

Jum'at malam,
Ramadhan 19, 1440 H/24 Mei 2019

Senin, 06 Mei 2019

#14

Setelah 18 tahun berlalu....

Ternyata benar aku banyak menuruni sifat dan karaktermu mama...

Walau kadang aku berusaha tidak ingin sepertimu, namun karakter wanita batak itu memang erat denganku.

Kuat, lembut, sopan, santun, berprinsip
Bersahabat tanpa batas, tertawa meski duka, tersenyum meski lara...

Terimakasih mama. Aromamu masih bisa tercium di kenanganku. Semoga Allah mempertemukan kita dalam Jannatunna'im-Nya

Kuhadiahkan Alfatihah untukmu di ramadhan yang syahdu ini untuk bidadari tanpa sayapku.

2 Ramadhan 1440H