Jumat, 24 Mei 2019

#15

Hari kebangkitan bangsa, dilanjur dengan aksi masa dan terjadi dinegeriku yg kucintai.

Negeriku elok yg kucintai ini, penuh semangat, penuh kekuatan, people power mereka sebut... Demokrasi istilahnya.

Dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat.

Sebagai rakyat aku sering bertanya apa kontribusi yg sudah kuberikan untuk negaraku... Apa yg dirasakan oleh seorang rakyat sepertiku tak ada artinya dengan apa yg dirasakan oleh rakyat dipelosok negeri yg kucintai ini... Pulau terluar, terjauh dan terdampar.
Terpapar, terjatuh, terluka, terobek sukma dan sanubarinya... Jiwa dan raganya....

Ah....jiwaku tetap indonesia... Merah darahnya, putih tulangnya, legam kulitnya, manis senyumnya, putih parasnya, elok budinya, pekertinya tak usah ditanya.... Aceh sampai papua... Kalimantan, jawa, sulawesi pulaunya yang besar... Belum lagi ratusan gugusan pulau yang berserak namun disatukan dengan satu kata nusantara. Dihimpun oleh 1 pancasila.

Teringat disuatu malam di puncak menara monas... Diderunya angin tak terasa ada yg membasahi pipiku... Bukan tempias hujan... Tapi tempias air mata... Akankah aku berguna bagi Agama nusa dan bangsaku? Seperti kedua orangtua ku menangis saat mendengar tangisan pertamaku?

Tingginya monas saat itu... Syahdunya suasana hatiku... Menyatu dan menguatkanku... Aku perlu melihat diriku yg lemah dan dhoif, juga aku perlu melihat kanan dan kiriku, muka dan belakangku atas dan bawahku akar aku tetap mengakar kuat meski angin pasti akan terasa lebih kencang bagiku.

Malam itu... Tanpa alat komunikasi canggih, aku mentafakuri diriku... Dan berjanji bahwa aku akan mengabdikan segenap jiwa dan ragaku demi kemashlahatan negeriku, profesiku dan pasien-pasienku dan tentu saja keluargaku.

Jum'at malam,
Ramadhan 19, 1440 H/24 Mei 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar